KONAWE UTARA, SULTRASATU.COM – Wakil Bupati Konawe Utara (Konut) H. Abuhaera, S.Sos., M.Si., mewakili Bupati Konut H. Ikbar, SH., M.H., menghadiri kegiatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Menyapa Desa Transformasi 5 Pilar Inovasi Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera yang dilaksanakan di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo Gedung B.J. Habibie, BRIN Thamrin Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).
Wabup Abuhaera didampingi Plt Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Konut Sudomo, S.E., Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Konut Sartono, S.Sos., M.Si.
Hadir juga dalam acara tersebut, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Bulan Bintang (PBB), Dr. Ir. H. Ruksamin, ST., M.Si, IPU., ASEAN.Eng.
Dalam pemaparannya, Abuhaera mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten Konawe Utara terus mendorong pembangunan desa berbasis inovasi melalui kolaborasi bersama BRIN. Program Desa Inovasi yang mulai dijalankan sejak tahun 2023 kini menunjukkan perkembangan positif di Desa Laramo dan Desa Muara Tinobu.
Desa Laramo, Kecamatan Lembo, menjadi Desa Inovasi pertama di Konawe Utara pada tahun 2023 dengan fokus pengembangan sektor perkebunan dan ekonomi masyarakat. Sementara Desa Muara Tinobu, Kecamatan Lasolo, ditetapkan sebagai Desa Inovasi kedua pada tahun 2024 dengan basis pengembangan potensi kelautan dan perikanan.
“Di Desa Laramo, berbagai program inovatif telah berjalan, mulai dari operasional Rumah Inovasi Desa sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, pengembangan UMKM berbasis hasil perkebunan seperti cengkeh, penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hingga pelaksanaan Pasar Kaget yang menjadi ruang pemasaran produk masyarakat,” beber Abuhaera.

Selain itu, lanjut Abuhaera, Desa Laramo juga mengembangkan program penataan lingkungan “Laramo SAIRA” atau Smart Area Inovatif, Rapi dan Asri yang mendorong budaya gotong royong serta pengelolaan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat.
“Pemerintah desa juga terus mendorong digitalisasi pelayanan administrasi desa guna meningkatkan transparansi dan efisiensi pelayanan publik kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Desa Muara Tinobu fokus mengembangkan konsep Smart Fisheries melalui pendampingan nelayan, peningkatan produksi hasil laut, pengolahan hasil perikanan, serta penguatan ekonomi pesisir berbasis masyarakat.
Desa tersebut juga terus mengembangkan wisata bahari, pengelolaan lingkungan pesisir, serta sistem pelayanan desa berbasis teknologi informasi sebagai bagian dari penerapan konsep Smart Village.
“Berbagai pelatihan dan penguatan kapasitas masyarakat juga dilakukan secara berkelanjutan, termasuk pemberdayaan kelompok nelayan, perempuan, pemuda desa, dan pelaku UMKM pesisir,” katanya.
“Hingga tahun 2026, kedua desa tersebut masih menjalankan program-program inovasi secara aktif dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara, BRIN, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga masyarakat,” tambahnya.

Abuhaera bilang, program yang dijalankan juga mengacu pada implementasi lima pilar Desa Inovasi, yakni Smart People, Smart Governance, Smart Economy, Smart Living atau Environment, serta Smart Heritage.
Bahkan menurut Abuhaera, keberhasilan program Desa Inovasi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Di Desa Laramo misalnya, pendapatan masyarakat mengalami peningkatan melalui pengembangan UMKM dan pengolahan hasil perkebunan yang memiliki nilai tambah ekonomi.
“Muncul pula berbagai usaha baru di bidang kuliner, olahan hasil kebun, hingga kerajinan masyarakat. Selain itu, pola pikir masyarakat mulai berubah menjadi lebih inovatif dan kreatif dalam mengembangkan potensi desa,” jelasnya.
Sementara di Muara Tinobu, penguatan ekonomi keluarga nelayan serta pengembangan sektor wisata bahari turut memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Digitalisasi pelayanan desa di kedua wilayah juga dinilai mampu meningkatkan transparansi administrasi, mempercepat pelayanan publik, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa.
“Desa Laramo dan Muara Tinobu kini bahkan menjadi lokasi studi tiru bagi desa-desa lain dan mulai dikenal sebagai model pengembangan Desa Inovasi di tingkat kabupaten hingga nasional,” ujarnya.

Dalam mendukung keberlanjutan program tersebut, pemerintah desa mengalokasikan pembiayaan melalui Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat, pengembangan ekonomi desa, operasional kelembagaan desa, digitalisasi pelayanan, hingga kegiatan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Konawe Utara juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan Desa Inovasi melalui integrasi program ke dalam RPJMD Kabupaten, penguatan BUMDes, pengembangan desa digital, serta rencana replikasi program Desa Inovasi dan Desa Wisata ke sejumlah desa lainnya.
“Dalam lima tahun ke depan, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara menargetkan pengembangan sekitar sembilan Desa Inovasi dan Desa Wisata sesuai karakteristik dan potensi masing-masing wilayah,” terangnya.
Selain itu, pemerintah daerah juga mendukung pengembangan Indeks Desa Inovasi (IDI) sebagai instrumen untuk mengukur kemajuan desa secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga kapasitas inovasi, tata kelola, ekonomi, lingkungan, dan pelestarian budaya.
Sebagai bentuk komitmen penguatan program, Pemerintah Kabupaten Konawe Utara juga mengusulkan kepada BRIN agar daerah tersebut dapat dijadikan laboratorium Desa Inovasi Nasional serta mendukung pengembangan Rumah Inovasi BRIN di daerah.
“Kolaborasi antara pemerintah, BRIN, perguruan tinggi, dunia usaha, media, dan masyarakat diharapkan dapat terus memperkuat model pembangunan desa berbasis inovasi yang berkelanjutan di Konawe Utara,” tutup Abuhaera.(Edy)













