Headline NewsNewsPemerintahan

DLH Konkep Menyebut Tak Ada Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT GKP

Avatar
777
×

DLH Konkep Menyebut Tak Ada Kerusakan Lingkungan Akibat Aktivitas PT GKP

Sebarkan artikel ini
Ketgam Foto Kepala dinas DLH Konkep, M. Rustam Arifin (Kiri) saat memberikan keterangan usai meninjau lokasi.
Ketgam: Foto Kepala dinas DLH Konkep, M. Rustam Arifin (Kiri) saat memberikan keterangan usai meninjau lokasi.

KONKEP, SULTRASATU.COM – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), M. Rustam Arifin menegaskan bahwa hasil pemantauan di lapangan belum ada kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas usaha pertambangan yang dilakukan PT Gema Kreasi Perdana (GKP). “Berdasarkan pemantauan kita dan hasil laporan setiap semester baik secara administrasi maupun teknis, kondisi di lapangan belum terkesan menimbulkan kerusakan lingkungan,” bebernya, Kamis (31/8/2023).

Kalau ada indikasi terjadi kerusakan lingkungan, maka fungsi DLH kabupaten untuk melakukan pembinaan di lapangan. Namun lebih kurang dua tahun menjabat Kadis DLH Kabupaten
Konkep, ia mengaku sudah mendapatkan 3 kali laporan semester penaatan lingkungan juga pantauan langsung yang dilakukan, semuanya masih berjalan dengan baik.

“Kita berharap, kondisi seperti itu tetap dipertahankan. Kalaupun ada isu-isu yang menyudutkan, maka akan terjawab sendiri dengan kondisi yang sesungguhnya yang terjadi di lapangan,” paparnya.

Kemudian hewan khas Pulau Wawonii, terancam punah akibat aktivitas pertambangan, pria 54 yang lahir dan besar di Wawonii ini menegaskan bahwa ada beberapa hewan yang memang pernah ada seperti burung Monde atau semacam Maleo yang pernah hidup di Pulau Wawonii.

BACA JUGA:  Satresnarkoba Polres Konsel Tangkap 3 Pelaku Shabu Jenis Narkoba, BB 82 Sachet Berat 31,33 Gram

“Sebelum era 70-an, burung-burung tersebut memang ada. Tetapi pasca tahun 70-an, memasuki era 80-an, burung-burung tersebut sudah tidak pernah ada lagi,” ungkapnya.

Bingkai Dispar

Bingkai ekoran dikbud bkad scaled

Salah satu penyebab menurut dia, karena adanya pertumbuhan penduduk dan juga pembukaan lahan. Sejak era 70-an, penyebaran permukiman penduduk juga semakin intens, terutama di daerah-daerah Pantai. Sementara burung Monde, bertelur dan berkembang biak di daerah Pantai. Akibatnya, lambat laun keberadaan burung monde pun hilang.

“Jadi semisal burung monde ini, dulu memang pernah ada. Tetapi sekarang sudah tidak ada. Jauh sebelum kegiatan pertambangan berjalan. Saya beberapa kali ngobrol dengan warga di daerah Rokoroko, rerata yang berusia 30-35 tahun, tidak pernah tau jenis burung itu lagi,” ujar M. Arifin.

Demikian halnya juga dengan Rusa atau Masyarakat Wawonii menyebutnya dengan Jonga. Dahulu jumlahnya lumayan banyak, tetapi sekira tahun 80-an, dengan semakin banyak penduduk dan pembukaan lahan yang dilakukan oleh Masyarakat, otomatis Jonga tersebut, akan mencari lokasi lain yang jauh lebih aman.

Untuk kasus Jonga, imbuh dia, ada juga perburuan yang dilakukan, sehingga populasinya terus berkurang. Saat ini di beberapa wilayah di Wawonii, masih ada, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit.

Hal ini juga diakui oleh Rusdin (40 tahun), warga Sukarela Jaya mengakui bahwa saat dia keci, masih banyak jonga yang berkeliaran di dekat kampung. Lokasi jonga biasanya berada tidak jauh dari kali Rokoroko dan sangat dekat dengan jalan utama saat ini. namun, di era setelah 80-an, jumlahnya makin menipis dan lambat laun, jonga tidak pernah ada lagi di wilayah Rokoroko raya.

“Dulu di dekat kali sini, masih banyak alang-alang. Jonga banyak sekali. Lambat laun mulai hilang,
karena mulai ada yang buka lahan ke atas ditambah ada juga yang berburu, sehingga saat ini, sudah tidak ada lagi jonga di sini,” tandasnya. (SS/dam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!