KONAWE UTARA, SULTRASATU.COM – Pemerintah Kabupaten Konawe Utara secara resmi menetapkan status siaga bencana ekstrem. Langkah ini diambil menyusul peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memprediksi peningkatan intensitas curah hujan-mulai dari kategori sedang hingga lebat disertai petir- yang diperkirakan berlangsung sejak tanggal 10 hingga 19 Mei 2026 mendatang.
Penetapan status ini diputuskan dalam rapat koordinasi yang di pimpin oleh Bupati Konawe Utara H. lkbar, SH.,M.H, didampingi Wakil Bupati Konawe Utara.H.Abuhaera, S.sos.,M.Si dan Sekertaris Daerah Konawe Utara Dr. Safruddin, S.Pd.,M.Pd, serta melibatkan seluruh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), lembaga vertikal, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pihak terkait lainnya, sebagai bentuk antisipasi dini menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan tanah longsor yang berisiko melanda sejumlah wilayah di kabupaten ini.
Dalam arahannya, Bupati Konawe Utara, Ikbar, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil demi mempersiapkan segala kebutuhan dan langkah penanganan sedini mungkin, agar dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat diminimalisasi. Berdasarkan data resmi BMKG, potensi cuaca buruk akan terjadi dalam rentang waktu hampir sepuluh hari ke depan.
“Berdasarkan informasi dan data dari BMKG, kemungkinan mulai tanggal 10 sampai 19 Mei ke depan, intensitas hujan di wilayah Kabupaten Konawe Utara akan terus meningkat. Mulai dari hujan sedang hingga hujan dengan intensitas tinggi yang disertai petir. Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait sepakat menetapkan status siaga bencana ekstrem sebagai langkah antisipasi utama,” ujar Bupati Ikbar saat memberikan keterangan pada Minggu malam (10/5/2026).
Dalam rapat tersebut, pemerintah juga telah menerima laporan di lapangan mengenai sejumlah titik wilayah yang sudah terdampak banjir akibat hujan yang mengguyur beberapa hari terakhir. Salah satu titik kritis yang menjadi perhatian utama adalah Desa Tambakua, Kecamatan Landawe. Wilayah ini kini terisolasi total karena akses jalan utama menuju desa tersebut terputus dan terendam air. Sebanyak kurang lebih 100 Kepala Keluarga (KK) atau setara dengan 446 jiwa warga di desa itu kini terdampak dan sulit dijangkau lewat jalur darat.
“Akses jalan menuju Desa Tambakua saat ini sudah tidak bisa dilalui kendaraan maupun pejalan kaki karena tertutup air bah. Menyikapi hal itu, malam ini juga kami sudah memutuskan dan menyiapkan segala kebutuhan, mulai dari personel, peralatan pendukung, hingga logistik pangan dan kesehatan, yang akan segera dikirimkan ke lokasi untuk membantu masyarakat di sana,” tegas Ikbar.
Selain Desa Tambakua, jalur strategis Jalan Poros Trans Sulawesi di wilayah Desa Polora juga sempat terendam banjir dan mengganggu arus lalu lintas. Namun saat ini, kondisi di ruas jalan tersebut perlahan mulai membaik dan dapat dilalui kembali berkat penanganan cepat yang dilakukan secara bersama-sama oleh Dinas Perhubungan, pihak TNI, dan Polri di lokasi kejadian.
Guna memperkuat pelayanan dan penanganan, Pemkab Konawe Utara kini sedang mempersiapkan pendirian dua posko induk siaga bencana. Posko tersebut akan didirikan di dua kecamatan yang menjadi titik rawan, yaitu Kecamatan Landawe dan Kecamatan Langgikima. Keberadaan posko ini nantinya akan berfungsi sebagai pusat pelayanan pendistribusian bantuan logistik sekaligus layanan kesehatan bagi masyarakat yang terdampak.
“Banjir selain merusak fasilitas dan pemukiman, dampak kesehatannya juga harus diwaspadai. Genangan air berpotensi memicu berbagai penyakit seperti alergi kulit, gatal-gatal, diare, hingga demam. Karena itu, langkah antisipasi di bidang kesehatan dan penyediaan obat-obatan kami siapkan lengkap di posko,” ungkap Ikbar.
Terkait kendala akses menuju wilayah terisolasi seperti Tambakua, pemerintah tengah mengkaji dan mempersiapkan opsi penyaluran bantuan menggunakan perahu karet maupun memanfaatkan jalur alternatif lain yang masih bisa dilalui, agar bantuan dapat segera sampai ke tangan warga yang membutuhkan. Tidak hanya fokus pada penanganan bencana fisik, pemerintah daerah juga mengantisipasi dampak ekonomi dari cuaca ekstrem ini.
Pemkab Konawe Utara mengantisipasi adanya potensi kelangkaan serta kenaikan harga barang kebutuhan pokok, bahan bakar minyak (BBM), dan gas elpiji akibat terganggunya jalur distribusi. Bupati Ikbar telah menugaskan dinas terkait, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta berkoordinasi dengan kepolisian untuk terus memantau peredaran barang dan menindak tegas oknum yang memanfaatkan situasi.
“Kami mengawasi ketat ketersediaan dan harga barang. Kami tidak ingin ada oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi darurat ini untuk mencari keuntungan pribadi dengan menimbun barang atau menaikkan harga di tengah kesulitan masyarakat yang sedang terdampak bencana,” tegasnya dengan nada tegas.
Di akhir arahannya, Bupati Ikbar kembali mengimbau dan mengingatkan seluruh masyarakat Konawe Utara, khususnya warga yang bermukim di bantaran sungai, lereng bukit, daerah lembah, maupun dataran rendah, untuk terus meningkatkan kewaspadaan maksimal.
Ia meminta warga segera mengungsi ke tempat yang lebih aman apabila kondisi lingkungan sekitar mulai dinilai membahayakan keselamatan.
“Keselamatan nyawa dan jiwa masyarakat adalah prioritas utama kami. Jangan pernah lengah dan meremehkan situasi, karena bencana bisa datang sewaktu-waktu dengan cepat. Segera cari tempat aman jika keadaan sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali,” pungkas Bupati Ikbar. (Edy)













