KENDARI, SULTRASATU.COM– Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, M.Ling., hadir sebagai narasumber pada hari kedua Rapat Koordinasi Penguatan Kapasitas Perangkat Daerah Pemprov Sultra 2025 yang digelar di Aula Asrama C BPSDM Sultra, Kamis (11/12/2025).
Di hadapan para kepala OPD dan peserta retret, Hugua membawakan materi berjudul “From Ego System to Eco System”—sebuah gagasan mengenai pentingnya transformasi cara pandang aparatur dalam membangun birokrasi yang lebih melayani.
Hugua menjelaskan bahwa salah satu akar persoalan birokrasi adalah pola kerja downloading, yakni kecenderungan menyelesaikan masalah hanya pada level gejala tanpa menyentuh akar persoalan.
“Kita sering terjebak. Ada masalah, lalu kita selesaikan gejalanya saja. Ini pola lama, pola ‘downloading’. Kita lupa melihat blind spot kita sendiri,” katanya.
Ia juga menyoroti dua hambatan utama yang kerap muncul dalam tubuh birokrasi: Voice of Cynicism (suara sinisme) dan Voice of Judgment (suara penghakiman). Dua pola pikir ini, kata Hugua, memperkuat ego individu dan melemahkan kolaborasi.
“Sering muncul pola pikir ‘siapa lu, siapa gue’. Ini mematikan empati. Inilah ‘Ego-System’,” ujarnya.
Menurut Hugua, birokrasi yang melayani hanya akan terwujud jika aparatur bergeser menuju Eco-System, yaitu kesadaran bahwa seluruh elemen pemerintahan saling terhubung dan tidak dapat bekerja sendiri-sendiri.
“Kita memerlukan Open Mind, Open Heart, dan Open Will—membuka pikiran, hati, dan tekad,” tegasnya.
Hugua juga menekankan dua kemampuan penting bagi pemimpin publik: Sensing—mampu merasakan realitas masyarakat secara empatik—dan Presencing, yakni kesadaran penuh dalam mengambil keputusan strategis.
“Tanpa bonding dan empati, materi teknis hanya lewat begitu saja,” tambahnya.
Dalam pemaparannya, Hugua mengurai perjalanan panjang perubahan cara pandang birokrasi. Ia menjelaskan bahwa tantangan sosial dan ekonomi yang semakin kompleks menuntut aparatur untuk meninggalkan pola kontrol hierarkis dan beralih pada pendekatan yang lebih matang, adaptif, dan kolaboratif.
Ia menegaskan bahwa kesuksesan tata kelola bukan hanya soal alat perencanaan, tetapi tentang kesiapan kesadaran aparatur itu sendiri.
“Setelah kita berdiri dengan kesadaran yang benar, barulah kita memakai fungsi planning, actuating, dan controlling. Jangan terlalu cepat bicara perencanaan tanpa memperbaiki kesadaran diri terlebih dahulu,” ujar Hugua.
Menurutnya, 90 persen perubahan birokrasi dimulai dari jiwa dan pola pikir aparatur, bukan dari prosedur teknis.
Kegiatan yang digelar pada 10–13 Desember 2025 ini disebut sebagai ruang refleksi bagi aparatur Pemprov Sultra. Retret tersebut menjadi momentum untuk mengikis ego sektoral, membangun kepekaan, serta memperkuat etos kerja kolaboratif antarlembaga.
Hugua menutup sesinya dengan ajakan agar seluruh peserta menjadikan kegiatan ini sebagai pondasi transformasi birokrasi di Sulawesi Tenggara.
Jika Anda ingin sekalian saya buatkan judul alternatif, caption IG, atau versi singkat untuk press release, tinggal beri instruksi. (Ed)













