KONAWE SELATAN, SULTRASATU. COM – Puluhan siswa SMA Negeri 10 Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) dan sejumlah murid sekolah dasar (SD) dilarikan ke Puskesmas Motaha setelah mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan keracunan makanan. Para siswa dilaporkan mengalami mual, pusing, sakit perut hingga diare setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala SMAN 10 Konawe Selatan, La Li, S.Pd., mengatakan gejala mulai dirasakan sejumlah siswa sejak sore hingga malam hari setelah mengonsumsi makanan tersebut. Kondisi itu kembali terlihat saat para siswa tiba di sekolah pada hari berikutnya, sehingga pihak sekolah memutuskan membawa mereka ke puskesmas untuk mendapatkan penanganan medis.
“Kemarin mereka mengonsumsi MBG. Setelah pulang ke rumah, ada yang mual-mual sampai buang air besar atau mencret. Tadi saat tiba di sekolah, mereka mulai keluar masuk WC. Karena terlalu banyak yang menderita sakit perut, langsung kami arahkan ke puskesmas,” ujar La Li saat dikonfirmasi melalui telepon.
Lonjakan pasien membuat pelayanan di Puskesmas Motaha dipadati siswa yang membutuhkan penanganan. Selain berasal dari SMAN 10 Konawe Selatan, pasien juga dilaporkan mencakup murid dari sejumlah sekolah dasar di wilayah sekitar, di antaranya SD Negeri 1 Angata dan SD Negeri 4 Angata.
Terbatasnya kapasitas ruangan dan tempat tidur membuat sebagian pasien terpaksa mendapatkan penanganan di atas alas karpet yang dibentangkan di lantai. Petugas medis terlihat bekerja menangani para siswa, termasuk memberikan cairan infus dan bantuan oksigen kepada pasien yang membutuhkan.
Kejadian tersebut memperlihatkan suasana kepanikan di tengah proses penanganan. Sejumlah siswa tampak menangis karena mengalami sakit perut, sementara beberapa orang tua terlihat cemas terhadap kondisi anak-anak mereka. Terdapat pula laporan mengenai siswa yang mengalami kejang, namun kondisi medis dan penyebabnya masih memerlukan konfirmasi dari pihak berwenang.
Sebagai langkah antisipasi, pihak SMAN 10 Konawe Selatan memutuskan menolak sementara distribusi MBG pada hari kejadian. La Li menyebut makanan yang dibagikan kepada para siswa diketahui berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Punggaluku.
“Untuk sementara, MBG hari ini saya selaku kepala sekolah menolak dulu. Kejadian ini juga sudah dilaporkan kepada pemerintah kecamatan. Camat langsung menuju lokasi karena ada anggotanya yang turut dirawat,” katanya.
Hingga berita ini ditulis, jumlah pasti siswa yang mengalami gejala tersebut belum diketahui. Para siswa masih mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Motaha, sementara penyebab pasti kejadian belum dapat dipastikan.
Pihak terkait, termasuk dinas kesehatan setempat, diharapkan melakukan pemeriksaan dan penyelidikan untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa, termasuk menelusuri keamanan makanan yang dikonsumsi. Hasil pemeriksaan tersebut diperlukan untuk memastikan apakah kejadian ini berkaitan dengan program MBG serta menentukan langkah pencegahan agar peristiwa serupa tidak terulang. (Edy).











