KONAWE UTARA, SULTRASATU.COM- Festival Konasara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Konawe Utara resmi di buka pada, Senin (30/12). Dibalik meriahnya opening seremoni semalam, Kain Tenun Konasara buatan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Konut ikut memeriahkan acara.
Hal itu terlihat dari seluruh tamu undangan yang hadir pada malam pembukaan tersebut mengenakan Kain Tenun Konasara buatan Dekranasda dengan warna khasya yaitu Hijau.
Mulai dari Bupati, H. Ikbar, SH.,MH, Wakil Bupati Konawe Utara H. Abuhaera, S.Sos., M.Si, Ketua TP-PKK Hj. Wisra Wastawati Ikbar, S.Ter., Keb.M.Kes, Wakil Ketua TP-PPK Hj. Sarlina Abuhaera, S.Pd., MM, Sekretaris Daerah (Sekda) Konawe Utara Dr. Safruddin, S.Pd., M.Pd, kompak mengenakan kain tenunan tersebut.

Tidak ketinggalan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Konut Herman Sewani, SH, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Instansi Vertikal, BUMN, BUMD, Asisten, Staf Ahli, Kepala OPD, Kepala Badan, Kepala Bagian, Camat, Lurah, hingga Kepala Desa Lingkup Pemda Konut, hingga pembawa acara yang hadir pada malam itu juga mengenakan kain tenun tersebut.
Bupati Konawe Utara, H. Ikbar mengatakan, Konawe Utara tidak terlepas dari adat dan budaya terhadap masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Utara. Hal tersebut bisa dilihat dari Kain Tenun Konasara yang dikenakan.
Menurutnya, Kain Tenun Konasara menggambarkan kesejahteraan dengan motif khas Adat Suka Tolaki yang melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Konawe Utara.
“Kain Tenun Konasara ini merupakan Identitas Budaya dan Simbol Kesejahteraan Konawe Utara. Budaya tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga berfungsi sebagai identitas daerah yang memperkuat jati diri masyarakat Konawe Utara,” terang Ikbar.
Ikbar mengungkapkan, Kain Tenun Konasara merupakan kain khas yang dibuat secara khusus oleh Dekranasda Konawe Utara di malam pembukaan Festival Konasara. Kehadirannya tidak sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Setiap helai benang yang ditenun merepresentasikan harapan, doa, dan cita-cita masyarakat Konawe Utara untuk hidup sejahtera dan makmur.
“Secara filosofi, Kain Tenun Konasara menggambarkan kesejahteraan yang menjadi tujuan bersama antara masyarakat dan Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Utara. Motif-motif yang dihadirkan merupakan motif khas adat Tolaki, suku asli yang mendiami wilayah ini,” jelas Ikbar.
“Motif adat Tolaki melambangkan kemakmuran, persatuan, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat pembangunan daerah yang mengedepankan kebersamaan dan kearifan lokal,” tambahnya.
Sementara, Ketua Dekranasda Konawe Utara Hj. Wisra Wastawati, S.Tr., Keb. M.Kes mengungkapkan, Kain Tenun Konasara juga memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian masyarakat, khususnya para perajin lokal. Sehingga, melalui Dekranasda, pemerintah daerah terus mendorong pengembangan kualitas dan pemasaran kain tenun agar mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional.
“Hal ini menjadi bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Konawe Utara dalam melestarikan budaya lokal sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Penggunaan kain tenun dalam aktivitas pemerintahan juga mencerminkan sinergi antara budaya dan tata kelola pemerintahan yang berakar pada nilai-nilai lokal,” bebernya.
Ia berharap, melalui pelestarian Kain Tenun Konasara, Kabupaten Konawe Utara menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian budaya.
“Kain Tenun Konasara menjadi simbol kebanggaan daerah, warisan budaya yang terus dijaga, serta harapan akan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Konawe Utara di masa depan,” tutupnya. (Ed)













